Tolak Perpanjangan Usia Hakim Agung sampai 70 Tahun

23 09 2008

Panitia Kerja (Panja) revisi Undang-Undang (UU) Mahkamah Agung (MA) menyepakati perpanjangan usia pensiun hakim agung 70 tahun. MA menyambut baik kesepakatan itu. Namun kegirangan MA tersebut agaknya mendapat kecaman yang lumayan besar datang dari masyarakat maupun dari Para Praktisi Hukum, tentunya banyak alasan yang dikemukakan untuk menolak rencana ini, mulai dari alasan usia yang dianggap tidak produktif lagi hingga masalah kebijaksanaan yang mengatakan semakin tua seseorang maka akan semakin bijak orang tersebut, agaknya polemik ini menjadi pro kontra dalam masyarakat. Seperti berita yang saya kutip dari DetikNews berikut ini :

DetikNews – Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) berharap DPR dan pemerintah lebih bijaksana untuk tidak memperpanjang usia pensiun hakim agung menjadi 70 tahun. Bila diperpanjang, maka DPR dan pemerintah nyata-nyata menghambat proses seleksi hakim agung oleh Komisi Yudisial (KY), pemborosan dan merugikan keuangan negara.

“Rencana, usulan, maupun argumen memperpanjang usia pensiun, bisa saja diajukan atau dibuka lagi 5 atau 10 tahun lagi, atau setelah semua hakim agung merupakan hasil seleksi dari Komisi Yudisial,” kata Ketua YLBHI Patra M Zen dalam siaran persnya yang diterima detikcom, Senin (22/9/2008).

Patra menjelaskan, perkembangan pembahasan revisi Undang-undang Mahkamah Agung mengkhawatirkan. Hanya Fraksi PDIP yang melihat bahaya usulan perpanjangan usia hakim hingga 70 tahun, berdasarkan proses konsinyering revisi UU MA di Bogor tanggal 20 september 2008.

“Fraksi PDIP mengusulkan usia pensiun hakim agung hanya sampai 67 tahun. Perpanjangan usia hakim agung tidak tepat dilakukan saat ini. Untuk 5 sampai 10 tahun, perpanjangan usia hakim agung boleh saja dievaluasi kembali,” jelasnya.

Perpanjangan usia hakim agung sampai dengan 70 tahun, sebagaimana akan dimuat dalam Pasal 11 ayat (1) huruf b RUU MA, memiliki sejumlah potensi negatif dan bahaya institusional. Di antaranya, pembaruan di tubuh MA tidak optimal, regenerasi mandeg, merugikan keuangan negara.

Hasil Pengamatan ICW (Indonesian Corruption Watch)

Menurut catatan ICW, sulit mengatakan MA sudah berubah.Hingga 2008, kondisi MA dinilai masih jauh dari kesan bersih. Mafia peradilan masih marak, pengelolaan keuangan buruk, sikap antitransparansi, dan tingkap kepatuhan pada rekomendasi BPK rendah.

Bahkan,proses pembaruan peradilan pun masih terganjal akibat MA tidak patuh dengan blue print yang disusunnya sendiri sebelumnya. Dengan kata lain, di bawah kepemimpinan Bagir Manan dan sejumlah petinggi lain, institusi ini (MA) justru menonjolkan sisi gelapnya.

Satu evaluasi lain yang kontradiktif dengan suara publik menyangkut soal putusan kasus korupsi. Berdasarkan penelitian ICW, tren putusan bebas untuk kasus korupsi tahun 2005 hingga Juni 2008 di peradilan umum terus meningkat.

Pada 2005, sekitar 22,22% terdakwa kasus korupsi divonis bebas di peradilan umum (54 orang); meningkat menjadi 32,13% atau 116 terdakwa di tahun 2006; kembali mengalami kenaikan mencapai 56,84% atau 212 orang di tahun 2007; dan 104 terdakwa korupsi kembali divonis bebas hingga Juni 2008.

Artinya,dari total 1184 terdakwa kasus korupsi yang dapat dipantau ICW,sebagian besar divonis bebas dan sebagian lainnya dihukum relatif ringan.Atau rata-rata vonis sekitar 20 bulan (Tahun 2005-Juni 2008). Hasil evaluasi ini tentu semakin memperlihatkan stagnasi di institusi peradilan Indonesia yang berpuncak pada Mahkamah Agung.

Dalam konteks pemberantasan korupsi, pengadilan justru lebih memperlihatkan sisinya yang kontraproduktif.Tidak prosemangat pemberantasan korupsi. Hasil survei Political and Economic Risk Consultancy (PERC) 2008 pun menunjukkan hal yang sama. Peradilan Indonesia diletakkan pada posisi terburuk di Asia.

Waktu yang cukup panjang dan anggaran yang begitu besar ternyata tidak menghilangkan kesan korup institusi peradilan Indonesia. Seperti dirilis PERC, peradilan Indonesia ditempatkan di posisi ke-12 atau terburuk pertama se-Asia dengan skor 8,26.

PERC yang menggunakan skala 1-10 melakukan survei terhadap 1.537 responden dari pihak yang bersentuhan langsung dengan peradilan, kelompokbisnis,danlainnya.Surveiitu jelas menggambarkan penilaian dan kesan dunia internasional terhadap peradilan Indonesia. Untuk ulasan lebih mendalam berikutnya dapat saudara lihat di blognya BANG FEBRIDIANSYAH.

Laporan YLBHI

YLBHI mencatat daftar Hakim Agung Yang tahun ini masuk masa pensiun, yaitu Ketua MA Bagir Manan (6 Oktober 1941), Wakil Ketua Bidang Yudisial Umum MA Marianna Sutadi Nasution (12 Oktober 1941), Ketua Muda Pidana Umum Parman Suparman (13 Oktober 1941), Hakim Agung Kaimuddin Salle (23 Oktober 1941),
Ketua Muda Pidana Khusus Militer Iskandar Kamil (31 Oktober 1941), Hakim Agung Militer Soedarno (9 November 1941), Ketua Muda Militer German Hoediarto (24 November 1941), Hakim Agung Umum Andar Purba (9 Desember 1941).

“Jika daftar diperpanjang, maka pada 2009, terdapat 10 orang hakim agung yang memasuki usia pensiun 67 tahun. Selanjutnya sebanyak 9 orang hakim agung yang akan memasuki usia pensiun 67 tahun pada 2010,” imbuhnya.
Tidak dipungkiri ada sejumlah hakim di tubuh MA yang progresif, seperti Maria Sutadi dan Artidjo Alkostar. Namun hakim-hakim agung yang telah memasuki usia pensiun 67 tahun seperti Maria Sutadi tentu juga tidak berkeberatan adanya regenerasi menggantikan posisinya.

“Dibandingkan dengan usia pensiun polisi, jaksa dan pegawai negeri sipil, usia pensiun hakim agung sudah tepat jika hanya sebatas 65 tahun, dan tidak perlu diperpanjang,” pungkasnya.

Demikian,

Sumber :

http://www.detiknews.com/

BLOG BANG FEBRIDIANSYAH


Aksi

Information

3 responses

23 09 2008
ruben bukan onsu

wueeh.. kok ga sampe umur 100 thn aja..??

tanggung tuh 70 wehwehwehwe… :p

dagh aki-aki pun doyan ama jabatan yah bang,
bukannya dagh waktunya buat ngurusi akhirat
singkat padat & jelas kali ini coment nya bang😀

24 09 2008
sejutaasa

setuju bang!!!!!!

2 10 2008
Singal

Manusia…manusia…oh..manusia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: