Rape Of Nanking (Book Version)

11 09 2008

Category     :   Books

Genre          :   History

Pengarang   :   Iris Chang

Jika Rekan-rekan sekalian sudah membaca tulisan (postingan) saya yang sebelumnya  perihal kekejaman jepang di daerah Nanjing pada Masa Penjajahan dan pendudukan Jepang di China, yang rekan sekalian dapat baca serta saksikan DISINI. Saya  lihat di statistik WordPress saya bahwa artikel Criminal File : Rape Of Nanjing yang saya tulis pada halaman berikutnya mendapat sambutan yang hangat dari para pembaca walau tampa ada komentar namun hal itu dapat saya simpulkan dari statistik blog saya ini. Untuk itu tidak ada salahnya juga saya berbagi informasi bahwa telah terbit sebuah buku yang mengulas secara dalam dan mengungkap sejumlah Fakta-fakta sejarah kekejaman jepang di negara china pada era perang dunia I dan II. Buku Tersebut berjudul “RAPE OF NANKING (NANJING)” yang dikarang oleh “Iris Chang”, berikut preview nya ,…..

Di dalam buku ini, Iris Chang mencoba menggambarkan sebuah peristiwa yang terjadi pada Perang Dunia II, namun tersembunyikan dari dunia selama ini. Peristiwa tersebut adalah pendudukan Jepang atas Nanking pada tanggal 13 Desember 1937. Pada saat itu Nanking merupakan ibukota dari Republik Cina. Orang Amerika menganggap bahwa PD II dimulai saat penyerangan Pearl Harbour (7 Desember 1941). Orang Eropa menganggap bahwa PD II dimulai saat Jerman menyerang Polandia (1 September 1939). Orang Afrika menganggap bahwa PD II dimulai saat Mussolini menyerang Abbysinia (1935). Tetapi orang Asia, menurut Chang, harus menarik hingga tahun 1931 saat Jepang menguasai Manchuria.

Chang membandingkan pendudukan Jepang atas Nanking setara dengan pembantaian orang-orang Yahudi oleh Nazi. Korban di Nanking diperkirakan sebesar 260.000 sampai 350.000. Bagaimana ia bisa membandingkannya dengan 6 juta orang Yahudi yang terbunuh? Ia berani membandingkannya karena menurutnya pembantaian orang Yahudi terjadi dalam jangka waktu 6 tahun sedangkan pembunuhan di Nanking hanya terpusat dalam beberapa minggu saja. Chang menambahkan bahwa yang perlu diperhatikan dari Nanking tidak harus terpusat pada jumlah orang yang terbunuh namun lebih kepada bagaimana mereka dibunuh. Ada yang dijadikan sebagai sasaran untuk latihan bayonet hidup-hidup.

Ada juga yang menjadi korban kompetisi pembunuhan orang Cina oleh dua prajurit Jepang yaitu antara Mukai Toshiaki dengan Noda Takeshi. Selain itu Chang menambahkan bagaimana malangnya nasib para wanita Cina yang ada di Nanking pada saat itu. Dari yang masih di bawah umur sampai yang sudah lanjut usia, hampir semua menjadi korban pemerkosaan tentara Jepang. Chang menyebut semua tindakan dan perbuatan tentara Jepang tersebut sebagai tindakan dan perbuatan yang tidak beradab dan sangat kejam.

Sampai dituliskan bahwa anggota Nazi yang berada di Nanking pada saat itu memandang tindakan tentara Jepang tersebut sebagai sesuatu yang mengerikan, satu orang bahkan menggunakan istikah “beastial machinery”. Dengan menggunakan perbandingan-perbandingan ini, semakin jelaslah usaha Chang untuk menyebut peristiwa ini sebagai holocaust yang terlupakan pada PD II.

Iris Chang memulai buku ini dengan menggambarkan sedikit tentang sejarah Jepang dalam usahanya untuk memberikan dasar penjelasan motif Jepang untuk menduduki Cina. Mulai dari masa “kode etik samurai / bushido” hingga masa persiapan militer Jepang. Termasuk di dalamnya perubahan sistim pendidikan Jepang untuk mendukung semangat kebangsaan Jepang dan kekuatan militernya. Chang kemudian melanjutkannya dengan teknis perang menyangkut pendudukan Jepang atas Nanking. Bagaimana Jepang membagi pasukannya menjadi tiga dibawah pimpinan Nakajima Kesago, Matsui Iwane yang nantinya akan digantikan oleh Pangeran Asaka Yasuhiko (adik dari Kaisar Hirohito), dan Yanagawa Heisuke. Di awal buku ini juga dituliskan sedikit tentang sejarah kota Nanking sebagai pusat kebudayaan di Cina yang akhirnya hancur oleh karena pendudukan ini.

Pada pertengahan buku ini Chang menuliskan, hampir secara detail, perihal kekejaman tentara Jepang selama enam minggu pertama pendudukan kota Nanking. Dituliskan bagaimana wanita dan pria menjadi korban pemerkosaan tentara Jepang. Permainan-permainan seks mengerikan yang dipaksakan kepada orang-orang Cina saat itu. Dari semua kasus yang dituliskan oleh Chang, kasus yang paling parah menurut saya adalah ketika seorang wanita Cina bernama Li Xouyin yang sedang hamil tujuh bulan saat itu luput dari usaha pemerkosaan tiga tentara Jepang tetapi harus menerima 37 tusukan bayonet. Dia mengalami keguguran kandungan saat di rumah sakit dan baru pulih setelah tujuh bulan. Selain itu juga dituliskan berbagai cara penyiksaan yang diterapkan oleh tentara Jepang seperti penguburan hidup-hidup, penyaliban, dan pembakaran massal.

Ada juga tawanan yang diperintahkan untuk telanjang dan menyeburkan diri mereka ke kolam yang membeku hingga mati. Cara lain adalah dengan mengubur badan para korban hingga setengah dan membiarkan anjing-anjing untuk mencabik-cabik tubuh mereka.

Setelah detil perbuatan-perbuatan kejam tentara Jepang, Chang menuliskan tentang perbuatan kepahlawanan orang-orang Barat yang ada di Nanking pada saat itu dengan didirikannya “The Nanking Safety Zone” yang menyelamatkan hampir 300.000 orang Cina. Ia menuliskan bahwa begitu banyak usaha dari orang-orang Barat sehingga tidak mungkin dituliskan semuanya. Tetapi ia memfokuskan perhatian kepada tiga orang yaitu John Rabe seorang perwira Nazi yang Chang sebut sebagai “Oskar Schindler-nya Cina”, Robert Wilson sebagai satu-satunya ahli bedah di Nanking yang memilih untuk tetap tinggal, dan Wilhelmina Vautrin yang dipandang berjasa dalam melindungi ribuan wanita Cina dari tentara Jepang dan juga atas buku hariannya yang dianggap akan setara dengan buku harian Anne Frank sebagai sebuah saksi dari pembunuhan massal.

Pada bagian akhir dari buku ini terlihat sekali bagaimana kecewanya Iris Chang melihat kenyataan bahwa peristiwa di Nanking hanyalah dipandang sebelah mata oleh dunia internasional. Banyak penjahat perang dari Jepang yang lolos dari hukuman dan bahkan menjadi pejabat tinggi di Jepang. Ia tidak mengerti mengapa hanya ada sedikit reaksi dari dunia internasional tentang kekejaman Jepang di Nanking pada tahun 1937. Chang memandang ini sebagai the second rape of Nanking. Walaupun pada awalnya ia mencoba menjelaskan bagaimana dunia memandang peristiwa di kota Nanking secara apa adanya tetapi terlihat secara jelas bahwa kritikan-kritikan dan himbauan-himbauan untuk Jepang pada khususnya dan dunia internasional pada umumnya mendominasi bagian akhir dari buku ini.

Secara garis besar, Chang mencoba untuk menjelaskan The Rape of Nanking dengan menggunakan tiga perspektif yaitu dari perspektif tentara Jepang kemudian dari orang – orang Cina sendiri dan yang terakhir adalah dari perspektif orang – orang Barat yang memilih untuk tinggal dan membantu orang – orang Cina. Dari sini dapat kita lihat usaha Chang untuk menghasilkan sebuah tulisan sejarah yang objektif dan menyeluruh tetapi bagian akhir dari tulisannya berlawanan dengan semuanya itu. Terlihat bahwa pada akhirnya, rasa keterikatan pada etnisnya telah menghasilkan tulisan yang sangat subjektif bahkan sampai berkesan menghakimi dan menuntut. Metode penulisan bagian akhir dari buku ini berlawanan sekali dengan bagian awal dan tengah yang benar – benar berfokus pada penceritaan peristiwa melalui penggunaan sumber – sumber tertulis seperti transkrip wawancara dengan saksi dan korban, catatan militer, buku harian, dll. Historiografi yang digunakan oleh Chang menurut saya adalah historiografi konvensional atau mazhab méthodique yang berakar pada Leopold von Ranke. Sejarah bertugas untuk menceritakan masa lalu seperti apa adanya dan penggunaan sumber tertulis adalah sebuah keharusan untuk mendapatkan sebuah hasil penulisan yang dapat dipertanggungjawabkan dan dipercaya dan seperti mazhab méthodique yang berfokus pada masalah politik dan cerita orang – orang besar begitu juga Iris chang dalam menulis buku ini.

Namun kita harus mengacungkan jempol terhadap usahanya yang keras dalam menemukan sumber – sumber tertulis tersebut karena peristiwa ini adalah sebuah peristiwa yang terlupakan. Sebuah micro-history yang tertutup oleh bayang – bayang sejarah PD II. Chang mampu melarutkan kita dalam tulisannya sehingga kita pun akan merinding seperti merasakan sendiri kekejaman tentara Jepang pada orang Cina di Nanking pada saat itu ditambah lagi dengan adanya foto – foto yang hanya dengan melihatnya saja kita sudah mengerti mengapa muncul kalimat “the forgotten holocaust of World War II”. Buku ini menyadarkan kita, terutama para sejarawan, bahwa mungkin masih banyak lagi peristiwa – peristiwa masa lalu yang telah kita lewatkan atau kita telah pilih untuk melewatinya. Dengan buku ini, Chang telah mengawali pengakhiran atau bahkan telah mengakhiri the second rape of Nanking.

Demikian.

Sumber : Gramedia Online


Aksi

Information

5 responses

12 09 2008
Nich

waduh, bisa ada kejahatan perang seperti itu yang terlewatkan ya?

13 09 2008
yuhendrablog

@Nich
ntah kenapa saya tertarik mengulas masalah kejahatan perang, mungkin yang namanya HAM pada waktu itu belum dikenal yah,…. khusus nya buat di Nanjing, mungkin belum banyak orang indonesia mengetahui hal seperti itu, tapi bang ada kabar berembus bahwa kekejaman jepang lebih kejam yang ia lakukan di Indonesia dalam kurun waktu 3,5 tahun ketimbang apa yang dia lakukan di Nanjing China….

nih saya lagi cari artikel mengenai JUGU IANFU indonesia ,….
😀

15 09 2008
Goenz

kurang tau banyak neh sejarah Jepang neh..
but, nice post mas hendra

salam kenal yah..🙂

6 01 2011
tristi

saya barusan baca novel terbitan dastan books “tokyo” yang berlatar belakang peristiwa penyerbuan jepang pada desember 1937 di nanking… sangat menyentuh dan membuat saya ingin tau lebih banyak lagi ttg kejadian tersebut.
nice post, thx.

21 04 2012
yudhi

film ttg kekejaman tentara jepang di nanking bisa dilihat film-nya, judulnya city of life and death, sutradaranya org china.. bener2 sadis…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: