Penyederhanaan Jumlah Surat Suara Pemilu dan Dilema Pindah Memilih

Surat Suara Pemilu 2019 terdiri dari 5 Jenis, yaitu untuk Pilpres, DPR RI, DPD, DPRD Prov dan DPRD Kab/Kota. Sumber foto dari berbagai media.

Usulan dari Civil Society dan Pemerhati Demokrasi terkait dengan penyederhanaan jumlah surat suara jelang Pemilu 2024 patut untuk diapresiasikan. Hal tersebut tentu bentuk dari kepedulian dan peran aktif dari masyarakat terkait dengan penyelenggaraan Pemilu.

Maksud Penyederhanaan tersebut adalah, merubah jumlah surat suara yang pada Pemilu 2019 sebelumnya berjumlah 5 (lima) surat suara untuk yaitu terdiri dari surat suara pilpres, DPR RI, DPD RI, DPRD Provinsi dan DPRD Kab/Kota menjadi 1 (satu) surat suara.

Para pemerhati demokrasi dalam paparannya di beberapa diskusi zooming mengemukakan ide tersebut dengan tujuan untuk mempersingkat proses penghitungan surat suara di TPS.

Hadar Nafis Gumay, peneliti senior Netgrit dan Presidium Nasional Jaringan Demokrasi Indonesia adalah pemerhati demokrasi yang pertama sekali mencetuskan ide penyederhanaan jumlah surat suara ini, sebagaimana sama publik ketahui bahwa permasalahan Pemilu 2019 kemarin adalah lamanya proses penghitungan suara yang dilakukan oleh badan adhoc (KPPS) diakibatkan oleh anggota KPPS harus terlebih dahulu membuka kotak suara satu persatu dari 5 (lima) kotak yang akan dilakukan penghitungan. Waktu banyak tersita, sementara UU mewajibkan bahwa proses penghitungan suara beserta hasilnya harus selesai pada hari yang sama dengan hari pemungutan suara, belakangan putusan MK berbaik hati memberikan tenggat waktu beberapa jam bagi KPPS untuk menyelesaikan proses penghitungan suara di TPS.

(lebih…)

Mengapa Harus Kartini?

533960_10151348431666791_1644713353_nMengapa Harus Kartini?

Mengapa setiap 21 April, bangsa Indonesia memperingati Hari Kartini? Apakah tidak ada wanita Indonesia lain yang lebih layak ditokohkan dan diteladani dibandingkan Kartini?

Pada dekade 1980-an, guru besar Universitas Indonesia, Prof. Dr. Harsya W. Bachtiar pernah menggugat masalah ini. Ia mengkritik pengkultusan R.A. Kartini sebagai pahlawan nasional Indonesia. Tahun 1988, masalah ini kembali menghangat, menjelang peringatan hari Kartini 21 April 1988. Ketika itu akan diterbitkan buku Surat-Surat Kartini oleh F.G.P. Jacquet melalui penerbitan Koninklijk Institut voor Tall-Landen Volkenkunde (KITLV).

Tulisan ini bukan untuk menggugat pribadi Kartini. Banyak nilai positif yang bisa kita ambil dari kehidupan seorang Kartini. Tapi, kita bicara tentang Indonesia, sebuah negara yang majemuk. Maka, sangatlah penting untuk mengajak kita berpikir tentang sejarah Indonesia. Sejarah sangatlah penting. Jangan sekali-kali melupakan sejarah, kata Bung Karno. Al-Quran banyak mengungkapkan betapa pentingnya sejarah, demi menatap dan menata masa depan.

(lebih…)

Bandar Judi Dibalik Kekalahan TIMNAS ??

Mungkin sampai saat ini, masyarakat Indonesia masih menyimpan kekecewaan besar setelah Timsas Garuda ditekuk Malaysia 3-0, Minggu (26/12) .

Terlebih, ada yang berbeda dalam pertandingan kemarin. Permainan Timnas tak berkembang saat bertandang ke stadion Bukit Jalil, Malaysia. Ini tentu berbeda saat Firman Utina dkk merebut kemenangan beruntun sejak babak penyisihan grup hingga semifinal melawan Filipina.

Pelatih Alfred Riedl menuding faktor nonteknis ikut mempengaruhi kekalahan timnas. Ada lampu Laser yang menyorot mata kiper Markus Haris Maulana, ditambah gol perdana striker Moh. Safee yang meruntuhkan mental juang tim Merah Putih. Ada juga kegiatan dan undangan yang dianggap tidak ada hubungan dengan pertandingan digelar PSSI, sehingga mengganggu konsentrasi pemain.

(lebih…)

Ketika ‘Secret code’ terbocorkan

Militer menuding itu adalah tindakan kejahatan. Ketika Bradley Manning, pemuda yang baru menjadi tamtama, mengunduh puluhan ribu kawat diplomatik Kedutaan Besar Amerika Serikat ke dalam CD, ia dituding melakukan tindakan kriminal. Kegiatan iseng untuk membunuh waktu kosong di posko Angkatan Darat Amerika Serikat di Irak pada November 2009-April 2010 itu digolongkan tindakan kriminal berat. Bradley, tentara polos itu, dianggap melanggar peraturan 18 US Code Section 1030. Dia dituding membobol komputer secara tak sah.

Sepele? Kelihatannya begitu. Tapi itu tak seberapa dibandingkan dengan tindakan Julian Assange, warga Australia, yang mendirikan WikiLeaks. Lembaga itu mungkin dalam terminologi anak gaul Jakarta disebut “superbocor”, bukan “bocor alus”. Ya, sejak 28 November 2010, Assange telah membuka lebih dari 250 ribu pembicaraan diplomatik antara kantor Kedutaan Besar Amerika dan Departemen Luar Negeri Amerika–11 ribu di antaranya berkode rahasia.

Semua dibeberkan dengan terang benderang. Mulai makian Presiden Prancis Nicolas Sarkozy, pembatalan pesanan ruangan di Hotel JW Marriott Jakarta oleh Kedutaan AS sehari sebelum terjadi ledakan bom di hotel tersebut, sampai fenomena serial TV Desperate Housewives di Arab Saudi, yang dianggap ampuh untuk meredam keinginan jihad di negara itu, ada di sana.

(lebih…)